Brawijaya Essay Competition 2020

Kami dari panitia Brawijaya Essay Competition 2020 mengajak dan mengundang sekolah Bapak/Ibuk untuk ikut berpartisipasi dan mendelegasikan siswanya dalam lomba esai nasional tingkat siswa. Kami harap, pihak sekolah juga dapat mempublikasikan lomba ini ke media sosial sekolah, grub siswa, dan penyampaian di kelas (jika memungkinkan).Atas waktunya, kami ucapkan terimakasih

Welcome to ‘New Normal’

 Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif.

Untuk itu, pemerintah akan mengatur agar kehidupan masyarakat agar dapat kembali berjalan normal. Dia pun menyebutnya dengan istilah new normal.

Pandemi Covid-19 tak dipungkiri menimbulkan dampak bagi kehidupan umat manusia, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

Bahkan, pandemi Covid-19 juga berdampak pada rutinitas sehari-hari manusia yang biasanya menjalankan aktivitas seperti bekerja, sekolah, berolahraga, dan lainnya, kini dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Meski begitu, new normal bukanlah kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan. Melainkan mengembalikan kehidupan semula dengan produktivitas yang diiringi optimisme juga mekanisme pencegahan infeksi virus corona (Covid-19).

Pandemi Covid-19 membuat seluruh dunia harus beradaptasi dengan perubahan dan rutinitas baru.
Meski pandemi telah usai, diperkirakan manusia tak bisa kembali lagi dengan rutintas yang biasa ia lakukan sebelumnya.

Yah, secara tak langsung, pandemi membuat kita harus beradaptasi dengan “new normal” atau rutinitas baru.

Bagi banyak orang, hal ini bisa menjadi tantangan besar karena proses adaptasi tentunya tidak semudah membalikan telapak tangan.

Bahkan, proses adaptasi ini bisa menimbulkan gangguan psikologis yang serius pada beberapa orang.
Lalu, bagaimana cara untuk mengatasinya?
Melansir laman Cleveland, ada empat hal yang harus kita lakukan agar proses adaptasi dengan rutinitas baru atau new normal. Berikut empat hal yang kita lakukan agar mampu beradaptasi dengan new normal:
1. Berdamai dengan keadaan
Menurut psikolog klinis Adam Borland, salah satu bagian terpenting agar sukses beradaptasi dengan new normal adalah menerima kenyataan bahwa hal ini juga baru bagi semua orang.
Meski ada rasa kecewa atau frustasi yang kita rasakan, Borland menyarankan agar kita tetap berusaha untuk melewati proses adaptasi ini dengan mempertahankan rutinitas harian.
“Ada banyak hal di luar kendali namun kita tetap harus bisa mepertahankan rutinitas harian, seperti mengerjakan tugas-tugas yang bisa kita selesaikan untuk mendapatkan pencapaian nyata,” ucapnya.
2. Jaga komunikasi dengan orang lain
Rasa kecewa dan frustasi adalah hal yang tak bisa kita hindari di tengah situasi saat ini. Oleh karena itu, Borland menyarankan agar kita tetap terhubung dengan orang lain.
“Kita bisa dengan mudah terbawa emosi negatif, terutama perasaan terisolasi dan kesepian,” katanya.

Untuk mengatasinya, cobalah untuk mengomunikasikan apa yang kita rasakan kepada teman atau keluarga. Cara ini akan membantu kita agar tidak lagi merasa sendiri.

Hal yang sama juga berlaku dalam dunia kerja. Agar pekerjaan tetap lancar, kita juga harus memiliki komunikasi yang lancar dengan atasan dan rekan kerja kita.
Dengan cara ini, kita bisa mendiskusikan dan mencari solusi dari hambatan-hambatan pekerjaan yang kita alami.
3. Pertahankan keseimbangan emosi
Memang sulit menyeimbangkan emosi ketika kita harus beradaptasi dengan situasi baru. Namun, keseimbangan emosi sangat diperlukan agar kita tetap tenang di tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian.

Selain itu, keseimbangan emosi juga turut menentukan kesehatan fisik kita. Untuk mencapai keseimbangan emosi, yang perlu kita lakukana adalah mengidentifikasi perasaan kita tanpa melakukan penghakiman.

“Tak masalah jika kita merasa sedih, kecewa dan marah. Yang perlu kita lakukan adalah menerima perasaan itu tanpa ada penyesalan atau menyalahkan diri sendiri,” ucap Borland.
4. Fokus pada masa kini
Menurut Borland, situasi pandemi membuat kita selalu membayangkan hal buruk akan masa depan dan menyesali apa yang seharusnya kita lakukan di masa lalu.

“Sangat sulit untuk berfokus pada masa kini karena banyak orang memiliki spekulasi dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi di hari esok,” ucap Borland.

Menurutnya, hal tersebut hanya akan membuat kita sulit beradaptasi dengan keadaan dan tidak bisa fokus pada hal-hal yang harus kita kerjakan di masa kini.
“Biarkan segala sesuatunya terjadi. Hal yang perlu kita lakukan dalah fokus pada masa kini dan mengerjakan apa yang harus kita selesaikan,” tambah Borland.

 

 

Cegah Penyebaran Covid-19, MAN 1 Kota Blitar Lakukan Pembelajaran Daring di Rumah

Blitar—Menindaklanjuti surat edaran Gubernur Jawa Timur tentang peningkatan kewaspadaan terhadap Covid-19, mulai Senin, 16 Maret 2020, MAN 1 Kota Blitar meniadakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Kendati tidak ada di siswa di sekolah, pembelajaran, tetap berlangsung sesuai jadwal seperti biasa, hanya saja kali ini dilakukan jarak jaruh, secara daring (dalam jaringan).

Siswa belajar di rumah dan dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ataupun kerumuman massa. Termasuk, menghindari sementara ritual salam-salaman, serta senantiasa menjaga kebersihan dan meningkatka daya imun tubuh. Hal ini sebagai bentuk upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 atau virus Corona. Ada beberapa media yang dapat dimanfaatkan selama pembelajaran jarak jauh ini berlangsung. Guru dapat menggunakan berbagai aplikasi, seperti Rumah Belajar, Google Classroom, Quizziz, ataupun Ruangguru. Bahkan media perpesanan seperti WhatsApp atau bahkan sosial media seperti Instagrampun bisa dimanfaatkan.