Sejarah

Tentang Kita

Man Kota Blitar
KEPALA MADRASAH
SI FULAN

SEJARAH
MAN KOTA BLITAR

Selayang Pandang

Sejarah adalah suatu potret nyata dari perjalanan manusia yang melukiskan pemandangan atas hasil karya dan karsa masyarakat di masa lampau, namun manusia dengan segala keterbatasannya sering hanya mampu memberi gambaran sekilas tentang obyek yang ditulis. Perjalanan panjang sebuah institusi perlu ditulis dan dicatat dengan tinta emas sebagai gambaran kongkrit dan sebagai saksi bisu sebuah peradaban manusia agar dapat menjadi tolok ukur kejayaanya dari masa ke masa.
Seperti halnya MAN Kota Blitar yang kini besar tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan jaman yang demikian pesat dan mengglobal, tidak mungkin begitu saja berdiri tegak tanpa melalui ujian dan cobaan, melainkan terbilang penuh dengan tantangan, yang menurut akal sehat tidak mungkin dapat membrantas kemaksiatan yang sudah mengakar dan membumi di Kota Blitar yang mengelilingi bangunan inti madrasah kala itu, sebut saja Balapan adalah sentra peternak babi terbesar di Kota ini dan bertetangga sebelah dengan perumahan/ lokalisasi wanita tuna susila (WTS) / Penjaja Sex Komersial (PSK) lengkap dengan mami-maminya, tempat tersebut terkenal dengan sebutan “Gang wolu”. Sedangkan gang berikutnya adalah gang 10 yang menjadi lokasi dimana berdiri bangunan megah MAN Kota Blitar.
Untuk mengetahui liku-liku perjuangan Bapak-bapak pendiri MAN Blitar hingga menuju kejayaan MAN Kota Blitar kini, dan lebih jauh dalam menegakkan agama islam di kota ini seperti sekarang, kiranya tidak berlebihan bila pembaca mengikuti ulasan di bawah ini dengan penuh saksama.
B. SEJARAH BERDIRINYA
ERA Sekolah Persiapan IAIN atau dengan sebutan singkat SP-IAIN, Madrasah Aliyah Negeri Kota Blitar / MAN KOTA BLITAR (nama resmi institusi ini sekarang) mengalami kemajuan yang sangat pesat seperti yang kita saksikan sekarang adalah bukan dari hasil sim-salabim abagadabra, tetapi telah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, bahkan onak dan duri telah dilaluinya dengan susah payah namun atas berkat rahmat Allah SWT. serta didasari dengan ketulusan dan kegigihan para pendiri akhirnya berhasil dengan selamat apa yang dicita-citakannya.
MAN Kota Blitar yang merupakan pengembangan sebuah ide agung dari Almarhum Bapak K.H.Thohir Widjaja (tokoh Ponpes Kunir) yang pada saat itu menjabat sebagai ketua GUPPI Daerah Tingkat II Blitar bersama teman dekat beliau Bapak Affandi Idhar sebagai Kepala Pendidikan Agama Tk.II Blitar, ide tersebut berupa pendirian sebuah MADRASAH yang dimulai sejak tahun 1970. beliau mulai menggalang kerjasama yang erat dengan beberapa tokoh islam yang lain guna mewujudkan gagasan berlian tersebut.
Maka di awal tahun 1970 muncullah satu-satunya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Islam di Kota Blitar tepatnya pada tanggal 12 Mei 1970 sekolah itu dinegerikan dengan nama Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri yang di singkat SP- IAIN. Sekolah tersebut untuk sementara mengambil tempat di Kampus SPG Negeri Blitar (sekarang UPP-PGSD kampus III Malang di Blitar) dengan kepala sekolah yang pertama Drs.Mukarom Muslimin.
Sesuai dengan namanya, berdirinya SP-IAIN antara lain dimaksudkan agar para siswa dapat mempersiapkan diri menuju jenjang perguruan tinggi berikutnya khususnya IAIN (sekarang ada yang bernama Universitas Islam Negeri/ UIN).
Mereka yang berjasa bagi MAN Kota Blitar sepantasnyalah penghargaan setinggi-tingginya dipersembahkan kepada beliau para pendiri madrasah ini yang pada saat itu menjabat sebagai:
1. Penasehat K.H. Zahid Syafi’ie (al marhum)
2. Ketua K.H. Thohir Widjaja (al marhum)
3. Sekretaris K.H. Masykur Efendi (al marhum)
4. Wk.Ketua Affandi Idhar
5. Bendahara Suwoto
6. Anggota H.Ali Muksin (al marhum)
7. Anggota Suprio
8. Anggota Drs.Mukarom Muslimin
9. Anggota Sukaryadi
10. Anggota Drs.Marsudi (al marhum)
11. Anggota Moh.Talkah (al marhum)
12. Anggota Supandi (al marhum)
Dengan segala daya dan upaya SP-IAIN yang masih baru lahir telah mampu memanfaatkan secara tepat fasilitas yang ala kadarnya untuk kemudian sebagai ujung tombak sejarah tegak berdirinya madrasah yang unggul dikelak kemudian hari.
Sejak kepindahan SP-IAIN dari lokasi SPG Negeri (sekarang UPP-PGSD kampus III Malang di Blitar) menuju ke Jln. Tanjung no.1 yaitu sebuah Gedung milik Persatuan Cina (Sekolah Conghwa conghwi) dengan diberi status hak guna pakai SP-IAIN mulai menapak dunia persekolahan sebagaimana layaknya. Guru dan karyawan yang semuanya berstatus honorer setahap demi setahap sudah di negerikan, selain pula mendapatkan beberapa tambahan guru negeri dari pemerintah.
Jabatan penting yang diduduki bapak dan ibu yang sebagian besar masih merangkap dengan jabatan lain di luar SP-IAIN mulai ditata dan disempurnakan, seperti mulai bulan desember 1975 direktur sekolah yang semula dijabat oleh Drs.Mukarom Muslimin diserahterimakan kepada Mu’ad Rachman Widjaya, BA. (title saat itu) hal itu disebabkan Bapak Mukarom Muslimin pada saat itu masih berstatus sebagai dosen IAIN Kediri (sekarang STAIN Kediri).
Pada awal perkembangannya jumlah siswa sudah menunjukkan bahwa SP-IAIN merupakan sekolah yang diminati umat islam, hal ini bisa dimaklumi dan dimengerti karena SP-IAIN merupakan SLTA yang bercirikan agama islam satu-satunya di Kota Blitar, terlebih lagi SP-IAIN mampu menjembatani aspirasi mereka yang berkeinginan meneruskan studinya ke jenjang perguruan yang lebih tinggi yakni IAIN.
C. ERA MAN
Kini era baru itu telah hadir, MAN Blitar saat itu, berikut berganti MAN Kodya Blitar dan kini MAN KOTA BLITAR secara formal berdiri dan disyahkan dengan ditandatanganinya Prasasti oleh Menteri Agama RI Bapak H.Munawir Sadzali MA. Sedangkan resmi berdirinya MAN Blitar atas kesepakatan dari sebagian pendiri madrasah ini, maka diambil dari mulai penegerian SP.IAIN tanggal, 12 Mei 1970 akhirnya resmi sebagai tanggal, bulan dan tahun berdirinya MAN KOTA BLITAR.
Pada tahun pelajaran 1979/1980 setelah SP-IAIN berhasil mengayunkan langkahnya selama tujuh tahun, animo masyarakat untuk menimba ilmu di dalamnya menurun tajam, hingga terbukti dan tercatat pada tahun 1978 siswa kelas III berjumlah hanya 4 (empat) orang siswa saja. Menurut hasil penelitian dan pengamatan penyebab turunnya animo masyarakat terhadap sekolah SP-IAIN diketahui ada dua faktor: yang pertama mereka menganggap SP-IAIN bukan sebagai SLTA melainkan sekolah setingkat perguruan tinggi, kedua kalaupun ada yang paham bahwa SP.IAIN adalah sebuah SLTA, tapi ruang lingkup tamatan SP.IAIN kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya sangat sempit dan terbatas yaitu hanya ke IAIN saja.
Baru setelah turunnya Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 17 tahun 1978 tentang perubahan nama dari SP.IAIN menjadi MAN (Madrasah Aliyah Negeri) minat masyarakat ke sekolah tersebut semarak kembali dan bahkan secara fenomenal meningkat.
Untuk mengantisipasi lajunya jumlah siswa yang terbilang dramatis ditambah lagi adanya tuntutan kemajuan pembangunan yang terus meningkat sangat pesat, maka kepala sekolah beserta para guru dan karyawannya didukung masyarakat di sekitarnya MAN Blitar berhasil keluar dan lulus dari cobaan dan rintangan, sehingga tercatat mulai tahun pelajaran 1983/ 1984 MAN Blitar mulai menempati gedung sendiri di jalan jati gang X (Jln. Jati 78 sekarang) Sukorejo Blitar sampai sekarang.
MAN Kota Blitar sekarang – sempat beberapa kali berubah-ubah nama- dari MAN Blitar menjadi MAN Kodya Blitar, akhirnya menjadi MAN Kota Blitar sampai sekarang, dan hingga saat ini MAN Kota Blitar telah enam kali berganti pejabat Kepala Madrasah yang telah berhasil memimpin dan membawa MAN seperti sekarang, beliau adalah:
1. Drs.Mukarom Muslimin periode SP.IAIN
2. Drs.H.Mu’ad Rachman Widjaja 1975 – 1989
3. H.Muhadi 1989 –
4. Drs.H.Shiddiq Ghozaly
5. H.Masturi, BA.
6. Drs.H.Hasyim As’ari, M.Pd.
1. Kepemimpinan Mu’ad Rachman Widjaja, BA.
Seperti ulasan terdahulu bahwa setelah dilakukannya serah terima masing-masing dari Drs.Mukarom Muslimin (dosen IAIN Kediri) kepada Mu’ad Rachman Widjaja, BA. SP.IAIN berganti nama menjadi Madarasah Aliyah Negeri Blitar (MAN Blitar). MAN Blitar di bawah kepemimpinan Mu’ad Rachman Widjaja, BA. terus membangun mulai dari infrastruktur hingga suprastruktur dengan segala daya upaya yang ada beliau bersama guru dan karyawan yang jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari bergerak menjawab tantangan jaman yang terus mengalir tanpa kenal berhenti.
Dunia pendidikan saat itu memang belum terganggu oleh hiruk-pikuk teknologi sehingga kurikulum yang ada belum terkontaminasi, kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan alaminya sehingga perkembangan MAN Blitar semakin diminati oleh masyarakat terbukti statistik terus mengalami peningkatan yang signifikan.
Jurusan keagamaan masih menjadi faforit masyarakat waktu itu di samping jurusan yang lain, karena masyarakat menganggap pendidikan agama wajib tetap diajarkan tanpa harus meninggalkan pelajaran umum sehingga MAN-lah jawabannya, pemikiran masyarakat saat itu jika putera-puterinya di pondok pesantren tidak bisa mengenyam pendidikan umum (walau pemikiran itu salah) faktanya putera-puteri mereka relatif sulit diarahkan ke pondok pesantren.
Dari waktu ke waktu MAN Blitar semakin eksis keberadaannya dan melaju menurut tuntutan jaman. Karena MAN Blitar merupakan satu-satunya SLTA di Kotamadya Blitar yang bercirikan khas agama islam maka tidak heran kalau MAN menjadi favorit orang tua yang menginginkan putera-puterinya berkemampuan akademis ganda yakni pandai di bidang agama sekaligus tidak tertinggal pengetahuan umumnya.
Masih dalam kepemimpinan Mu’ad Rachman Widjaja hingga akhirnya MAN Blitar merelokasi tempat di jalan jati gang X yang diawali dengan pembukaan lahan yang tidak jauh dari kantor kecamatan sukorejo itu, yang menarik lokasi tersebut bersebelahan dengan kandang babi yang cukup besar di Kota Blitar dan lokalisasi bayeman (masyarakat menyebutnya gang wolu).
Tantangan berikutnya adalah bagaimana komunitas MAN Blitar bisa menghapus kedua lokasi yang sangat kontradiktif itu, lagi-lagi seluruh kemampuan yang ada terus digerakkan seiring kepercayaan masyarakat yang semakin baik walau di sana-sini penuh liku, onak dan duri menghadang.
Hingga akhirnya di era sembilan puluhan kedua masalah pelik itu dapat diatasi (baca diberantas) tanpa ada kendala yang berarti berkat kegigihan para pendiri madarasah ini, dan pada tanggal 22 Desember 1990 Drs.H.Mu’ad Rachman Widjaja dimutasi/ dipindahtugaskan di MAN Tlogo Blitar setelah kurang lebih 14 tahun memegang tampuk pimpinan di MAN Kota Blitar dan digantikan oleh H.Muhadi mantan Kepala MTs.N Kodya Blitar.
2. Kepemimpinan H.Muhadi
Kunci itu telah diserahterimakan dari Mu’ad Rachman Widjaja kepada penggantinya yaitu H.Muhadi yang sebelumnya beliau menjabat Kepala MTs Negeri Kodya Blitar (kini MTsN Karangsari). Kepiawaian memimpin dan meminej sebuah lembaga pendidikan tidak diragukan lagi karena terbukti MTsN Kodya Blitar beberapa kali mendapatkan kejuaraan dari berbagai lomba Madarasah mulai dari tingkat regional hingga tingkat nasional.
Kehadiran H.Muhadi di MAN Kodya Blitar (saat itu) bak gayung bersambut keberhasilan pendahulunya membangun infrastruktur dilanjutkan oleh beliau dengan penataan manajemen madrasah mulai dari pengadaan berbagai sarana-prasarana, staf hingga guru yang menjadi tulang punggung proses pembelajaran di Madarasah ini.
MAN Kodya Blitar (saat itu) terus berbenah, masyarakat mulai menemukan tempat yang tepat untuk menyekolahkan putera-puterinya sehingga statistik siswa terus mengalami peningkatan amat menggembirakan yang pada gilirannya berdampak pada kurang tersedianya ruang kelas yang cukup, tapi pemerintah dalam hal ini Departemen Agama cukup tanggap dan secara bertahap penambahan gedung terus dilakukan.
Di era ini pula dunia komputer mulai diperkenalkan mula-mula pihak Madrasah bekerjasama dengan pengusaha kursus komputer yang ada dengan mengirimkan guru dan staf TU untuk mendapatkan pendidikan barang canggih itu a.l. dari guru: Hasyim as’ari, BA. (sekarang Kepala MAN Kota Blitar), Hari Afendi, BA, dan Drs,Puguh Wiyono sedangkan dari staf Tata Usaha : Usmuni.
Program Komputer waktu itu menjadi program prioritas dan menjadi icon yang menjadikan MAN Kodya Blitar lebih dulu melek teknologi dibanding SMA/ MA yamg ada di Kota pada saat itu yang lambat tapi pasti dapat mendongkrak jumlah siswa secara kuantitatif. Tidak bisa dipungkiri karena memang waktu itu MAN Kodya Blitar-lah yang pertama dari SLTA yang ada di Kodya Blitar yang memiliki laboratorium komputer berikut instrukturnya, hingga era sembilanpuluhan MAN Kodya bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) telah dapat mengeluarkan Sertifikat resmi ketrampilan Komputer dari Depnaker.
Hari berganti bulan tahunpun berlalu H.Muhadi telah banyak berbuat untuk MAN Kodya Blitar tercinta hingga pada satu periode meraih keberhasilan menjadi MAN terbaik se- Jawa Timur, MAN Kodya Blitar di bawah kepemimpinan H.Muhadi telah pula mendapat gelar MAN Ketrampilan yang merupakan satu-satunya MAN se-Jawa Timur yang mendapat mandat dari Departemen Agama sebagai Madarasah pengelola program keterampilan MR Komputer, Tata Busana dan Tata Boga untuk keperluan itu MAN Kodya Blitar mendapat bantuan tiga unit gedung berikut isi dari masing program tersebut senilai 2 M.
Untuk menunjang proyek tersebut diangkatlah guru-guru yang berkompetensi dibidang program masing-masing, disamping secara bertahap dikirim beberapa guru untuk dididik menjadi instruktur ketrampilan tsb.
Ada pertemuan pasti ada perpisahan mungkin ungkapan ini tepat untuk mengiringi berakhirnya tampuk pimpinan MAN Kodya Blitar oleh H.Muhadi karena memasuki purna tugas kepada generasi berikutnya yang ‘tak lain beliau H.Masturi, BA.
3. Kepemimpinan H.Masturi, BA.
Dua periode telah berlalu bak silih bergantinya siang dan malam, MAN Kodya Blitar resmi berganti nama MAN Kota Blitar mengikuti struktur tata pemerintahan otonomi.
Sama dengan pendahulunya H.Masturi, BA. Tinggal melanjutkan, dengan kelebihan kelembutan budi beliau konsep manajemen kepemimpinan beliau fokus kepada terangkatnya harkat dan martabat MAN Kota Blitar agar lebih tampak khas keislamannya dengan meningkatkan profesionalisme guru melalui pendekatan moralitas pendidik, hal ini membuktikan ukhuwwah islamiyah terbangun dengannya.
Bersama H.Masturi, BA. MAN Kota Blitar terus mengalami kemajuan dibergai bidang tak terkecuali dunia internet telah di rambahnya. Pembangunan sarana prasarana terus dilakukan seiring perubahan demi perubahan telah terjadi, dibidang kesiswaan tampak sekali kemajuannya terutama di semua program kegiatan ekstrakurikuler.
4. Kepemimpinan Drs.H.Shiddiq Ghozaly
Periode demi periode telah terlewati dengan selamat generasi kepemimpinan berikutnya jatuh kepada Drs.Shiddiq Ghozaly yang kelahiran Kertosona, di bawah kepemimpinan beliau MAN Kota Blitar tidak menjadi mundur melainkan melaju lebih kencang, bisa dimengerti karena beliau berangkat dari bawah dimulai dari jabatan fungsional guru sampai Wakil Kepala Madrasah pernah beliau sandang hingga akhirnya Departemen Agama memberi mandat beliau menjadi Kepala MAN Kota Blitar yang keempat.
Seluk-beluk MAN Kota Blitar telah beliau ketahui jauh sebelum menjabat Kepala MAN Kota Blitar, sehingga apa yang dibutuhkan agar MAN Kota Blitar lebih maju dilakukannya dengan tanpa kendala yang berarti, penghargaan yang lebih kepada bawahan beliau (guru dan pegawai) tidak luput dari perhatiannya, transparansi dalam tugas juga merupakan kometmen yang lain, namun belum semua kometmen terkafer beliau keburu mutasi.
Kemajuan yang pernah ditorehkan beliau disamping proses belajar mengajar adalah adanya pengajian rutin bagi dewan guru sampai pada penghijauan madrasah.
Usia kepemimpinan Drs.H.Shiddiq Ghozaly relatif lebih pendek dari pada semua pendahulunya, hingga SK mutasi turun yang menetapkan beliau menjadi Kepala MAN Tlogo Blitar, hingga akhirnya sekarang di MAN Wlingi, sedangkan MAN Kota Blitar yang ditinggalkan digantikan oleh Drs.H.Hasyim As’ari,M.Pd. Namun perlu dicatat bahwa kometmen semua mantan Kepala MAN terdahulu ke arah majunya MAN Kota Blitar selalu menjadi inspirasi pemimpin berikutnya sehingga MAN Kota Blitar tetap jaya.
5. Kepemimpinan Drs.H.Hasyim As’ari, M.Pd.
Era millennium telah tiba, siapapun pemimpin MAN Kota Blitar yang akan datang mau tidak mau harus melek iptek, tanpa itu Madrasah ini lambat -kalau tidak bisa dikatakan staknan/ alias jalan di tempat-, cepat atau lambat tapi pasti akan ditinggal oleh masyarakat terpelajar.
Semua sudah didepan mata, kini MAN Kota Blitar menunggu kepiawaian Drs.H.Hasyim As’ari,M.Pd. untuk memolesnya … amin
D. PARADIGMA BARU
Atasnama reformasi peradaban telah berubah, MAN Kota Blitar harus menjawab semua tantangan di era yang sudah mengglobal ini. Di bawah kepemimpinan Drs.H.Hasyim As’ari, M.Pd. MAN Kota Blitar telah berhasil meraih juara 1 lomba Prestasi Madrasah tingkat Propinsi Jawa Timur, dan masih banyak lagi prestasi-prestasi akademik maupun non akademik yang telah di raih hingga membawa nama harum madrasah di lokal Jawa Timur maupun secara nasional.
Tak ketinggalan peningkatan sarana- prasarana terus dilakukan mulai dari prasarana Aula, ruang kelas, Lab Bahasa, Perpustakaan dan Penambahan Tanah seluas 993 m2 yang direncanakan untuk pembangunan asrama guru/ siswa. Dari segi sarana penunjang pembelajaran telah dibangun Internet Tanpa Kabel (Hot Spot) ke depan diprogramkan adanya tugas guru kepada siswa via hot spot sedangkan pembahasannya melalui Radio FM yang telah dipersiapkan pembangunannya.
Melihat catatan di atas cukup berat rasanya mempertahankan kepercayaan masyarakat daripada menyiapkan menuju prestasi di atas melihat indikator tersebut Madrasah telah menggariskan dan menetapkan visi-misi madrasah agar dapat menjawab semua itu, yakni dengan :
Visi:
” Mewujudkan MAN Kota Blitar sebagai Madarasah yang Unggul dalam Iptek kental dengan Imtaq yang Kamilin dan Populis “.
Misi:
Mengoptimalisasi Sumber Daya Manusia Akademik lulusan siswa dan tingkat ketaqwaan kepada Allah SWT.
Melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar dan Bimbingan Efektif, Demokratis dan Dinamis.
Mendorong semua warga madrasah memiliki semangat berprestasi
Meningkatkan pemberdayaan potensi yang dimiliki madrasah.
MAN Kota Blitar kini (2008) telah berusia tigapuluh delapan tahun, usia yang boleh dibilang dewasa tua, sudah berbuat banyak untuk masyarakat membantu menyebarluaskan ketinggian agama Allah SWT Addinul Islam dalam segi Aqidah-Akhlak, Syariat dan Al-Quran-Hadits juga Sejarah Kebudayaan Islam disamping pengetahuan umum yang sederajat dengan SMA untuk mengantarkan generasi muslim di Blitar dan sekitarnya.
Walau demikian MAN Kota Blitar akan terus mengembangkan metodologi pembelajaran sebagai wahana kreativitas yang inovatif seperti arena brotcasting via Radio FM dan Antena Repeater (Antena Pancar Ulang) Radio Panggil sebagai alat komunikasi terbatas komunitas lokal MAN Kota Blitar yang dapat dipakai sebagai sarana pembelajaran dan diskusi jarak jauh yang efisien antar sesama guru.
E. PENUTUP
Hanya kepada Allah SWT kita berserah diri, perjalanan MAN Kota Blitar masih amat panjang, apa yang telah dan akan dicapai sampai saat ini semoga mendapat Ridlo-Nya. kita sebagai pelaku bermohon Kepada-Nya diberi kekuatan lahir dan batin dalam mengemban amanat berupa pendidikan untuk generasi muslim ini sehingga dapat melaksanakannya dengan tulus dan baik, amin.

opportunity

MADRASAH NEGERI KOTA BLITAR. “UNGGUL DALAM IMTAQ, IPTEK DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN” Belajar dan tumbuh bersama.